Imagine.
A world where people only take as necessary and let the rest for another people and we make a system where everybody do not have to worry about future.
We can keep the real scientist, monks, artists to do what ever they thinks and focus to inspire us about better world.
We have motivation of dignity in contributions and cares.
We keep the balance of social composition, environment, and cultures.
We are living peace and harmony.
Let's change the economy theory and practices
Let's focus on production, warehousing and distribution.
Let's reduce virtual economy.
That's the only answer of no crisis forever.
That's the reflection of humanity in real community.
Who want to dig more how to realize it?
Who want to be warrior of better world?
Please joint us.
...
pancasila
Minggu, 06 Januari 2013
Selasa, 11 Desember 2012
Sufi dan Filsuf
Antara Filsuf dan Sufi
Assalaamualaikum Wr. Wb.
Perdebatan Abadi
Ketika filsuf, sufi dan penganut Islam tekstual harus bertukar pendapat, adu argumentasi menjadi berkepanjangan dan tak pernah selesai. TahafutAlFalasifah dibalas TahafutAtTahafutAlFalasifah hingga sekian seri.
Perdebatan abadi tersebut terjadi karena masing-masing berangkat dari arah yang berbeda meskipun sama-sama menuju kebenaran. Bagian lainnya adalah batasan-batasan yang diperlakukan sebagai dogma. Titik temu menjadi semakin jauh ketika persepsi dan keyakinan irasional turut campur.
Sumber Referensi Pencarian Kebenaran
Perbedaan penting diantara mereka adalah sumber referensi yang digunakan:
- Filsuf mengandalkan logika dan menganggap logika sebagai hal terpenting dalam menentukan kebenaran untuk menafsirkan hubungan antar fakta atau rumusan.
- Sufi mempertimbangkan rasa sebagai bagian saluran petunjuk untuk memahami kebenaran.
- Kaum tekstual seperti ahli bahasa yang membatasi diri pada teks kitab (AlQuran dan Hadits) dengan sedikit informasi sebab musabab kejadiannya.
Proses Pencarian Kebenaran
Filsuf mengumpulkan obyek-obyek yang disebut fakta (termasuk rumusan) untuk kemudian menguji relevansinya dengan kebenaran yang dicari sebelum mempelajari hubungan-hubungan dan tafsirnya. Kebenaran dan relevansi fakta menjadi bagian terpenting.
Proses pencarian kebenaran kaum tekstual juga mengandalkan logika dan sejarah akan tetapi filsuf menggunakan fakta-fakta yang lebih luas dan lebih berani memikirkan hal-hal yang dianggap tabu oleh kaum tekstual.
Filsuf lebih tajam dan berani dalam menggali maksud dari suatu nash sedangkan kaum tekstual sangat berhati-hati dan cenderung mentabukan penafsiran baru.
Sufi mencari kebenaran langsung kepada Sang Pemilik melalui pendekatan diri kepada Tuhan. Petunjuk Tuhan dapat langsung ditempatkan dalam hati dan pikiran atau melalui pengalaman spiritual yang perlu ditafsirkan.
Sufi mengetahui kebenaran dari petunjuk sehingga untuk dirinya tak perlu lagi bukti kebenaran. Permasalahan sufi adalah cara membuktikan kebenaran ketika ia menyampaikan pada pihak lain. Permasalahan ketika berhadapan dengan filsuf adalah pembuktian atas kebenaran tersebut. Kebenaran sufistik tidak selalu dapat dibuktikan dan sufi sering tidak dapat menjelaskan dengan logika.
Keunggulan dan Kelemahan Sufisme
Jika Anda mempercayai Tuhan sebagai yang mengetahui kebenaran hakiki, maka informasi langsung dari Tuhan dapat mencakup kebenaran-kebenaran yang tidak mungkin diketahui dengan perangkat yang dikuasai manusia biasa. Kebenaran seperti ini tidak mungkin dibahas dan diuji dengan perangkat filsuf.
Filsuf dapat membantu sufi dalam menguji suatu kebenaran sepanjang tujuannya untuk memudahkan penjelasan terhadap suatu kebenaran yang diketahui seorang sufi. Dari proses ini. kita dapat membagi kebenaran sufi sebagai kebenaran yang telah dapat dilogikakan dan kebenaran yang belum dapat dilogikakan. Di antaranya, terdapat kebenaran yang salah dilogikakan.
Hal di atas membuat saya mengelompokkan kebenaran sufistik menjadi:
- Kebenaran yang tidak dapat dilogikakan.
- Kebenaran yang belum dilogikakan.
- Kebenaran yang telah dilogikakan.
- Kebenaran yang salah dilogikakan.
Hal di atas menunjukkan sisi positif, bahwa sufi dapat menjadi sumber inspirasi bagi filsuf.
Apakah sufi dapat salah?
Jawaban saya “Ya!”.
Kesalahan pendapat sufi dapat timbul dari sumber berupa keyakinan terhadap kebenaran yang tidak datang dari Tuhan. Penyebabnya berawal dari proses perolehan kebenaran. Penyebab yang baru dapat saya ketahui antara lain:
- Kesalahan seorang sufi dalam menafsirkan petunjuk yang berupa pengalaman-pengalaman rohani.
- Kesalahan sufi dalam mengkiyaskan kebenaran.
- Kesalahan sufi dalam menjelaskan kebenaran sehingga ditafsirkan berbeda.
- Kegagalan sufi dalam mengidentifikasi apakah suatu petunjuk berasal dari Tuhan atau dari selain Tuhan.
Petunjuk dari Selain Tuhan
Tuhan terus berinteraksi dengan setiap individu secara unik sebagaimana keunikan setiap individu. Dia terus memberi petunjuk dan membimbing kita. Para sufi berusaha terus-menerus untuk dapat merasakan kedekatan dan kasih-sayangnNya. Sebagai manusia, ia juga mengharapkan keselamatan dan membutuhkan petunjuk Tuhan. Tingkat kedekatan tertentu membuka peluang untuk memperoleh petunjuk langsung atau terasa dari Tuhan.
Banyak cara yang dikembangkan sufi tapi prinsipnya adalah mengolah hati untuk semakin meyakini dan mencintai Tuhan sehingga hati dapat menangkap langsung interaksi dengan Tuhan.
Permasalahan muncul dari tipuan iblis, pikiran sendiri dan nafsu. Pengaruh negatif dari ketiga sumber tersebut dapat menipu seorang sufi sehingga menganggap suatu kebenaran yang dirasakan dan terpikirkan berasal dari Tuhan - termasuk halusinasi.
Seorang sufi perlu mewaspadai dan mengenali indikator risiko intervensi dalam proses ritual sufistik. Satu-satunya cara untuk melindungi diri dari ketiga sumber tipuan tersebut adalah pembebasan diri dari celah-celah yang dapat dimasuki oleh ketiga sumber tipuan tersebut. Maka seorang sufi dituntut untuk senantiasa berusaha:
- Menyatukan kata dengan hati.
- Membimbing perbuatan dengan kebenaran yang diyakini.
- Mewaspadai nafsu, terutama dalam proses ritual sufistik.
- Memelihara kebeningan hati dan niat.
- Memelihara cinta yang murni dan dengan cara yang benar.
Bagaimana cara melaksanakan kelima usaha di atas, saya bukan ahlinya dan hanya bersedia diskusi secara tertutup dengan orang yang memenuhi 5 syarat:
- Berpikiran terbuka.
- Tertarik pada sufisme.
- Komitmen membersihkan diri dan hati.
- Komitmen menjaga niat.
- Seiman*).
*) Jika tidak seiman, tidak mengapa sepanjang anda meyakini dan memahami bahwa seluruh yang saya katakan tidak dimaksudkan untuk menjelekkan dan mempengaruhi keyakinan anda.
Bagi filsuf dan awam, saya menyarankan 5 indikator berikut untuk menilai seorang sufi:
- Tampak bahwa beliau benar-benar memelihara hati, niat dan perbuatan.
- Tampak bahwa beliau tidak menggunakan ritual-ritual yang tidak lazim.
- Tampak kesederhanaannya dalam menjalankan kehidupan.
- Tampak tidak memiliki keinginan terhadap dunia.
- Tampak kepeduliannya pada keselamatan dunia.
Bagi yang mulai mempraktekkan sufisme, selain membersihkan keimanan dan hati terlebih dahulu, saya menyarankan 5 hal berikut:
- Jangan lanjutkan jika anda mengharapkan kedigjayaan, kepopuleran, kekayaan, kekuasaan dan kehormatan.
- Fokuskan tujuan anda pada pengharapan untuk memperoleh kedekatan dengan Tuhan.
- Jangan memilih ritual-ritual yang tidak lazim.
- Jika merasa memperoleh petunjuk, waspadalah pada pengaruh keinginan, harapan dan nafsu anda.
- Sebaiknya dibimbing oleh “guru” yang dapat dipercaya.
Dan bila anda telah menjadi sufi, ingatlah bahwa tugas anda adalah berjuang untuk kebaikan semesta alam. Sangat berat dan menuntut pengorbanan luar biasa.
Keunggulan dan Kelemahan Filsuf
Penjelasan filsuf merupakan produk ilmiah yang mudah dicerna dan dapat bermanfaat untuk kepentingan seluruh dunia.
Kelemahannya adalah keterbatasan dalam mendeteksi kebenaran karena peralatan yang digunakan terbatas pada alat yang dimiliki manusia biasa yang hidup, sementara manusia hidup terbatasi kemampuan ruhaninya.
Kelemahan lainnya, adalah begitu banyaknya konsep-konsep logika dan berpikir yang belum tentu benar sehingga peluang terjadinya kesalahan sangat tinggi.
Hal lainnya adalah kesalahan pemahaman awam sehingga suatu wacana dianggap kebenaran.
Pilihan Saya
Saya menganggap proses sufisme dan berfilsafat adalah bagai dua alat yang berbeda untuk menemukan dan memahami kebenaran. Kadang suatu alat lebih efektif sebagaimana alat lainnya kadang tidak efektif. Pada banyak kasus, kedua alat tersebut perlu digunakan.
Usaha terus menerus untuk menjelaskan kebenaran sufistik dengan alat filsafat menjadi bagian dari tugas setiap orang yang memiliki kemampuan berfilsafat yang baik dan memahami sufisme.
Ulama adalah ilmuwan yang sebaiknya mempraktekkan sufisme dan menguasai filsafat sebagaimana penguasaan Fiqh.
Wassalaam.
mi_kuncoro@yahoo.co.id
Proses Sufi
Assalaamualaikum Wr. Wb.
Sufisme merupakan pilihan cara untuk mendekatkan diri pada Tuhan yang memanfaatkan metode-metode metafisik/spriritual. Beragam metode ritual yang digunakan, akan tetapi masih dapat dikelompokkan menjadi:
- Dzikir, dalam hal ini diartikan sebagai pengucapan – baik melaui mulut atau hanya dalam hati – kata atau kalimat secara berulang.
- Meditasi, termasuk Yoga.
- Tarian Spiritual.
- Perenungan.
Apapun metode yang anda pilih, kecuali perenungan akan melalui beberapa proses berikut:
- Memusatkan pikiran untuk merasakan kondisi kosong atau terpusatnya perhatian pada bunyi, rasa atau benda.
- Memasuki alam bawah sadar.
- Memasuki alam ruh (kesadaran ruhaniah / spriritual consciousness).
Sebelum membahas lebih lanjut perlu disampaikan ilustrasi jasad dan ruh untuk memahami istilah yang dimaksudkan dalam tulisan ini.
Ruh dan Jasad
Sesuai dengan berita yang kita peroleh, manusia, jin, hewan, dan mahluk lain yang belum/tidak kita ketahui memiliki jasad dan ruh. Ketika jasad terpisah dengan ruh sepenuhnya, suatu mahluk mengalami kematian. Hanya mahluk tertentu saja yang diberi kemampuan menyatukan atau memisahkan antara jasad dengan ruh.
Ruh merupakan hal yang ghaib selama kita hidup sedangkan jasad merupakan hal-hal yang ada di alam semesta.
- Jasad manusia berasal dari komponen-komponen yang ada pada tanah dan air.
- Jasad iblis berasal dari komponen-komponen yang ada pada api.
- Jasad jin berasal dari komponen-komponen yang ada pada lidah api.
Apa persisnya komponen jasad iblis dan jin, kita tak pernah tahu, bahkan komponen jasad manusia saja belum kita ketahui seluruhnya.
Pemahaman inilah yang membuat saya tidak menyetujui istilah “energi” untuk jin dan mahluk sejenis lainnya. Demikian pula dengan istilah “residual energy” karena masih banyak kemungkinan lain yang belum digali sebagai penjelasan atas fenomena terkait. Untuk ruh, saya memilih tidak membahas rinciannya karena telah ditetapkan sebagai hal yang gaib oleh Tuhan. Sama halnya dengan istilah “roh jahat”.
Ruh dapat berpikir, bergerak, berinteraksi dengan alam secara mandiri, akan tetapi ketika bersatu dengan jasad, akan terbelenggu oleh jasad. Misalnya pada manusia, ruh terpaksa berpikir dengan otak dan berinteraksi dengan kimia yang ada pada jasad ketika emosi dilahirkan.
Ruh menentukan pilihan dan kehendak sedang jasad memproses informasi dan mengeksekusi pilihan ruh. Maka kehenndak yang kuat dan internalisasi nilai-nilai dan keyakinan akan membuat ruh seorang manusia dapat mengendalikan jasad dengan baik. Proses penyembuhan spriritual, kekebalan, magnetisme, kinetik dan sebagainya bersumber dari kemampuan ini.
Pemusatan pikiran
Pemusatan pikiran merupakan gerbang untuk memasukan alam bawah sadar. Banyak metode yang digunakan akan tetapi pada prinsipnya adalah melemahkan ikatan pikiran dengan jasmani untuk memasuki alam bawah sadar.
Metode yang umum digunakan berkisar pada kombinasi:
- Mengosongkan pikiran.
- Memusatkan perhatian dan pikiran.
- Melemahkan jasmani.
- Memupuk keyakinan.
Cara yang ditempuh dapat berupa dzikir, meditasi, menari dan melakukan gerakan-gerakan relaksasi.
Mengenai cara yang baik, saya tidak ingin membahasnya akan tetapi berpesan untuk meneliti terlebih dahulu dan waspada pada dampaknya. Yang terpenting adalah menjaga tujuan (niat) dan mewaspadai nafsu dan harapan.
Memasuki Alam Bawah Sadar
Jika pada kondisi sadar sebagaimana yang kita rasakan saat ini, hubungan antara jasad dan ruh demikian erat sehingga ruh terikat untuk menggunakan jasad, maka pada alam bawah sadar, ruh lebih bebas berkehendak dan mampu mempengaruhi jasad.
Kondisi bawah sadar, hampir sama dengan kondisi terhinotis dengan satu perbedaan, yaitu kendali berada ditangan diri sendiri. Kendali tersebut dapat berubah ketika prosesnya dibimbing oleh seorang “guru” karena kata-kata “guru” dapat mempengaruhi pikiran, atau dengan kata lain “guru” memiliki pengaruh hipnotis.
Perbedaan dengan “trance” adalah pada kendali pikiran. Pada kondisi trance kendali terlepas sedangkan pada kondisi terhipnotis (oleh diri sendiri atau oleh orang lain) kendali masih ada sehingga moral dan keyakinan terhadap nilai-nilai tidak berubah. Kondisi trance merupakan area yang dapat dimanfaatkan jin sehingga fenomena kerasukan dapat terjadi.
Seorang sufi harus melewati fasa ini secara cepat untuk menghindari pengaruh-pengaruh eksternal yang dapat dimasuki oleh pikiran, ilusi atau intervensi mahluk lain jika tidak ditemani seorang “guru”.
Pengalaman kumulatif seorang sufi dapat memberikan kemampuan untuk mengendalikan alam bawah sadar dengan mempertahankan kesadaran dengan berpikir tanpa melibatkan otak. Pada kondisi tersebut ia dapat mengeksplorasi cara berinteraksi dengan otak dan bagian jasad lainnya. Akan tetapi sufi sejati tidak tertarik dengan hal-hal tersebut dan terlalu rindu untuk merasakan kedekatan dengan Tuhan. Alam ini dilewati sufi dengan sangat cepat tanpa eksplorasi yang tidak relevan.
Saya tidak pernah bermain dengan cakhra (dan tidak memerlukannya) akan tetapi tulisan dan penjelasan berbagai metode spriritual menunjuk pada ketujuh tittik tersebut. Saya hanya menduga, itulah titik-titik simpul keterkaitan ruh dengan jasad yang mungkin dapat diakses melalui proses tertentu
Memasuki Alam Ruh (Entering Spriritual Dimension)
Perjalanan pikiran dan rasa di alam bawah sadar dapat mendorong kita untuk menembus batas tabir alam ruh.
Kita dapat mengetahui berada dalam alam ruh ketika kita merasakan kebebasan dari jasad akan tetapi dapat memilih untuk tetap berinteraksi dengan jasad (atau tidak melupakannya) sehingga kita seolah-olah sendirian dan lainnya merupakan semesta yang terpisah. Pada pengalaman inilah kita berharap-harap memperoleh petunjuk dan merasakan kedekatan dengan Tuhan. Pada saat itulah kita dapat melihat pikiran sadar kita dan hati kita seperti melihat bukan diri sendiri. Saat-saat introspeksi yang paling berharga. Momen merenung secara bebas dengan obyektifitas yang tinggi. Kita dapat secara jelas mengetahui yang baik dengan yang batil sebagaimana yang dari Tuhan dengan yang dari diri sendiri.
Permasalahan untuk memasuki alam ini adalah kendala nafsu dan harapan. Ketika penyakit hati masih menguasai, maka muncul pikiran dan halusinasi yang menarik ke arah lain sehingga kita hanya berputar di alam bawah sadar. Sebagian besar praktisi sufi berpuluh tahun hanya mencapai alam bawah sadar.
Maaf, saya hanya dapat memberikan ilustrasi demikian untuk fasa ini dan tidak mampu memberikan bukti ilmiah. Silahkan gali informasi lebih lanjut dari yang mengalami.
Kembali ke Dunia
Kemunduran Islam selama ini sering ditengarai berawal dari perkembangan sufisme di dunia Islam yang dibarengi dengan keasyikan berkhalwat sehingga terlalu meninggalkan kehidupan dunia.
Benar atau tidak, seorang sufi mestinya menjadi pejuang untuk membangun dunia yang lebih baik, dengan kerja-keras untuk menyumbangkan hal terbaik untuk kebaikan dunia dan akhirat. Jalan sufi, mestinya dimaksudkan untuk mengetahui kebenaran hingga dapat menjadi manusia terbaik seperti yang dikehendaki Tuhan. Bekerja dan berdekatan dengan Tuhan, bukan sesuatu yang harus dipisahkan, jika tidak dapat dikatakan harus menyatu.
Wassalaam
mi_kuncoro@yahoo.co.id
Langganan:
Komentar (Atom)